Armi Susandi's Personal Website

ARMISUSANDI.com  
< Back
Peta Prediksi Masa Awal Tanam Padi

Pada saat ini, riset di Kelompok Keahlian Sains Atmosfer telah menghasilkan hasil berupa Peta Spasial Prediksi Masa Awal Tanam Padi, khususnya untuk wilayah Jawa Barat. Hasil riset ini merupakan hasil pengembangan model perubahan iklim yang mengkolaborasikan persamaan-persamaan matematis dengan kerumitan yang cukup tinggi. Hal ini dilakukan untuk memperoleh hasil prediksi seakurat mungkin dengan data lapangan.

Selengkapnya..
Peta Kerentanan Dampak Perubahan Iklim

Upaya adaptasi perubahan iklim tidak akan memperoleh hasil yang efektif jika tidak  diperhitungan mengenai seberapa besar perkiraan dampak yang ditimbulkan. Kita tidak tahu perbedaan tingkat kerentanan dampak di masing-masing wilayah. Untuk itu, diperlukan suatu peta yang memberikan informasi kerentanan wilayah terhadap dampak perubahan iklim yang akan terjadi di masa mendatang. Peta ini akan sangat mudah untuk dipahami oleh berbagai kalangan sehingga dapat menjadi referensi dalam mengupayakan adaptasi perubahan iklim baik dalam bentuk fisik maupun yang lainnya.

Selengkapnya..
Banjir di Jakarta Februari 2009?

Dalam beberapa hitungan hari mendatang, banyak ahli memperkirakan Jakarta kembali akan terkena banjir. Apakah kejadian ini akan benar-benar terjadi? Atau barangkali potensi banjir tidaklah separah tahun lalu? Jakarta sebagai ibukota negara akan menjadi pusat perhatian pada bulan Februari ini, karena potensi curah hujan akan mencapai puncaknya pada bulan Februari ini.

Selengkapnya..
Dewan Nasional Perubahan Iklim

Saat ini pemerintah Indonesia sudah melakukan satu tindakan penting dalam mengendalikan dampak perubahan iklim. Diantaranya adalah telah dibentuknya satu lembaga yang bernama Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Lembaga ini dibentuk langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 22 Juli 2008.

Selengkapnya..
Implikasi Perubahan Iklim di Wilayah Kalimantan
dan Usulan Adaptasinya

Kalimantan merupakan wilayah yang rentan dengan curah hujan tinggi dan memiliki suhu yang tinggi sepanjang tahun. Pulau ini memiliki habitat tropis tersubur di dunia dengan hutan basah tropisnya terluas di kawasan Indomalaya. Keanekaragaman hayati berada di wilayah ini.Empat propinsi di Kalimantan yang seluruh luasnya sekitar 539.460 km2 diantaranya adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Luas ini merupakan 28% dari seluruh daratan Indonesia.

Selengkapnya..
Pengembangan Peta Proyeksi Perubahan Musim dan
Iklim dengan Resolusi Tinggi

Perubahan iklim yang saat ini telah menjadi perhatian global dan utama memberikan banyak dampak negatif bagi Indonesia, salah satunya adalah pada sektor pertanian. Kejadian banjir serta kekeringan akibat pergeseran musim dan berkurangnya curah hujan di beberapa daerah di Indonesia menyebabkan besarnya potensi gagal panen. ICWG-CC pada tahun 2002 menyatakan bahwa produktivitas pertanian di Asia diprediksikan menurun sebesar 20%, semakin bertambahnya frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrim menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas pertanian. Negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki populasi penduduk miskin cukup besar paling rentan terkena dampak perubahan iklim tersebut. Telah diperkirakan bahwa adanya 30 hari keterlambatan datangnya musim hujan akan mengurangi produksi beras sebesar 580.000 metrik ton di Jawa Barat dan Jawa Tengah serta 540.000 metrik ton di Jawa Timur dan Bali.

Selengkapnya..
Perubahan iklim berkelanjutan, bagaimana jadinya Banjarmasin dan sekitarnya??

Pemanasan global (global warming) sebagai implikasi perubahan iklim yang berdampak pada dua hal utama, yaitu peningkatan temperatur global dan kenaikan muka air laut (sea level rise) diproyeksikan akan berdampak pada kenaikan muka laut di wilayah Kalimantan selatan terutama yang berdekatan dengan laut. Tidak terkecuali dengan daerah Banjarmasin sebagai ibu kota Kalimantan Selatan.

Selengkapnya..
Jakarta Tergenang Akibat Perubahan Iklim

Kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah dalam Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim tanggal 3-15 Desember 2007 yang lalu di Bali, kembali membuktikan pada dunia internasional bahwa komitmen Indonesia sangat tinggi dalam mengatasi persoalan penting dunia tentang pemanasan global. Salah satu keputusan penting dalam konferensi internasional tersebut adalah upaya pengurangan emisi global yang lebih besar dari komitmen sebelumnya (Protokol Kyoto), pengurangan emisi yang lebih besar atau disebut deeper cut sebesar 25%-40% menjadi salah satu hasil utama perundingan di Bali. Tentunya hal tersebut bertujuan agar upaya mitigasi perubahan iklim yaitu pengurangan emisi karbon global dapat terus menjadi target utama bagi negara maju di masa mendatang, khususnya paska tahun 2012, sementara itu kegiatan adaptasi perubahan iklim menjadi titik fokus negara berkembang. Sebagaimana kita ketahui kemampuan negara berkembang jauh lebih rendah dalam adaptasi dampak perubahan iklim global, sehingga negara berkembang menjadi negara yang lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim global.

Selengkapnya..