|
Untitled Document
Senin, 2 Februari 2009
Genangan di Jakarta Februari 2009?
Dalam beberapa hitungan hari mendatang, banyak ahli memperkirakan Jakarta kembali akan terkena banjir. Apakah kejadian ini akan benar-benar terjadi? Atau barangkali potensi banjir tidaklah separah tahun lalu? Jakarta sebagai ibukota negara akan menjadi pusat perhatian pada bulan Februari ini, karena potensi curah hujan akan mencapai puncaknya pada bulan Februari ini.
Berdasarkan data terdahulu, Jakarta mengalami banjir pada bulan Januari dan Februari. Pada bulan-bulan itulah tingkat tekanan alam (baca: curah hujan tinggi) pada wilayah Jakarta menjadi sangat besar. Tulisan ini akan mencoba memberikan pemahaman umum pada masyarakat luas tentang kemungkinan potensi banjir akibat curah hujan tinggi di Jakarta. Tentunya kita tidak ingin mengenyampingkan tentang faktor manusia dengan aktifitas pembangunan yang jauh lebih cepat berubah sehingga alam dalam hal ini curah hujan tinggi hanya berperan menstimulus (mempercepat) perubahan kondisi lingkungan tersebut, hingga menyebabkan terjadinya banjir di Jakarta.
Untuk memprediksi apakah benar Jakarta berpotensi banjir, maka beberapa instansi terkait, yaitu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), telah memberikan hasil analisisnya. Termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga telah mengeluarkan prediksinya dalam media ini beberapa waktu yang lalu, tentang potensi banjir Jakarta.

Gambar 1. Prakiraan BMKG untuk curah hujan Jakarta bulan Februari 2009
Berdasarkan prakiraan curah hujan Jakarta Februari 2009, BMKG memperkirakan Jakarta akan berpotensi mengalami curah hujan tinggi dengan intensitas 300-400 mm/bulan (Gambar 1). Intensitas hujan sebesar itu dinilai cukup tinggi dan berpeluang untuk terjadinya genangan atau banjir di Jakarta.

Gambar 2. Prakiraan LAPAN untuk curah hujan Jakarta bulan Februari 2009
LAPAN juga tidak kalah tepatnya memberikan analisisnya. LAPAN memperkirakan curah hujan di sekitar Indonesia, khususnya di wilayah Jawa akan mengalami intensitas curah hujan sekitar 300-350 mm/bulan (Gambar 2). Begitu juga dengan Jakarta, diperkirakan akan mengalami curah hujan yang kurang lebih sama pada kisaran intensitas tersebut.
Kedua prediksi curah hujan ini memberikan suatu peringatan (early warning) bagi kita, bahwa Jakarta pada bulan Februari tahun ini akan berpotensi mengalami curah hujan yang cukup tinggi dan selanjutnya berbagai ahli akan dapat memperkirakan potensi genangan yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Pegangan kita sebagai masyarakat awam tentang informasi cuaca dari BMKG dan analisis cuaca dari LAPAN dan BPPT menjadi tumpuan kita bersama.
Selanjutnya, Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai universitas riset, juga telah banyak memproduksi berbagai model prediksi cuaca di Indonesia sebagai model eksperimental, baik dengan model dinamis yang lebih komplek ataupun melalui pendekatan model statis tetapi ketepatan yang lebih baik. Proyeksi curah hujan yang ditampilkan dalam tulisan ini adalah Model Proyeksi Curah Hujan Resolusi Tinggi seperti terlihat pada gambar ini (Gambar 3). Model tersebut dikembangkan dengan model matematis khusus yang merupakan gabungan antara model canggih Fast Fouries Transform (FFT) dan model simpangan datanya. Penemuan 4 nilai frekuensi dalam persamaan khusus tersebut sangat menentukan ketepatan hasil model dengan data, sehingga model matematis khusus tersebut dapat digunakan untuk proyeksi mendatang. Model ini dikembangkan oleh berbagai ahli dengan berbagai latar belakang keahlian yang berbeda, kerjasama ahli informatika, matematika, penginderaan jauh dan ahli tentunya ahli meteorologi telah merampung model eksperimental curah hujan untuk wilayah Jakarta.

(a) (b)
Gambar 3. (a) Proyeksi curah hujan Jakarta bulan Februari 2008, (b) Proyeksi curah hujan Jakarta bulan Februari 2009
Peta curah hujan yang beresolusi lebih tinggi ini memperlihatkan bahwa wilayah Jakarta akan mengalami curah hujan cukup tinggi pada bulan Februari, terutama wilayah Jakarta bagian Utara, Jakarta Pusat, Jakarta bagian Selatan, dan Jakarta bagian Timur. Sementara di bagian Selatan Jakarta curah hujan akan tinggi dimulai dari wilayah Bogor, sedangkan di wilayah lainnya sekitar Jakarta, seperti Tangerang, curah hujan cenderung lebih rendah (lihat Gambar 3.b).
Terlihat juga bahwas, jika kita bandingkan proyeksi curah hujan tahun 2008 (Gambar 3.a) dengan proyeksi curah hujan tahun 2009 (Gambar 3.b), maka terlihat bahwa curah hujan ini mengalami distribusi curah hujan hujan lebih tinggi akan tetapi cakupan luas wilayahnya lebih sempit di banding wilayah cakupan curah hujan tahun lalu. Hasil model tersebut memberikan dugaan Jakarta berpotensi banjir pada bulan mendatang dengan intensitas hujan yang lebih tinggi pada beberapa wilayah, akan tetapi jika banjir tersebut benar-benar terjadi, maka wilayah cakupan genangan akan lebih sempit dibanding dengan kejadian tahun lalu pada periode yang sama. Sebelumnya melanjutkan pembahasan potensi banjir Jakarta bulan Februari 2009, kita memaparkan bagaimana Jakarta bisa terkena banjir karena fenomena alamnya.
Kejadian Banjir Jakarta
Kejadian genangan atau banjir di Jakarta dapat disebabkan oleh tiga kejadian. Pertama, kejadian banjir pasang (rob) oleh gelombang pasang laut sebagai akibat curah hujan yang tinggi di laut atau kejadian rob juga bisa diakibatkan oleh pasang laut karena gerhana bulan. Biasanya kejadian banjir pasang (rob) akibat gerhana bulan tersebu terjadi dalam hitungan waktu 12 sampai 24 jam sedangkan rob akibat curah hujan tinggi relatif lebih singkat waktunya. Daerah genangan biasanya terpusat di wilayah rendah di wilayah utara Jakarta. Kedua, genangan atau banjir bisa terjadi akibat limpahan air hujan dari wilayah Bogor ke daerah aliran sungai di wilayah Jakarta. Selanjutnya masyarakat sering mengidentifikasikan banjir ini sebagai ”banjir kiriman”. Daerah aliran sungai (DAS) yang dilalui oleh ’banjir kiriman” tersebut akan terkena genangan, terutama daerah yang yang rendah di wilayah Jakarta dan banjir akan berlangsung1-2 hari, tergantung lamanya dan intensitas hujan di wilayah Bogor. Ketiga, banjir atau genangan di Jakarta akan bisa terjadi akibat pergeseran pola curah hujan dari bagian selatan (wilayah Bogor) ke arah Utara, memasuki wilayah Jakarta, artinya terjadi perubahan pola curah hujan yang bergerak dari Selatan menuju Utara dari wilayah Bogor ke wilayah Jakarta. Adanya wilayah hujan yang baru dengan perubahan pola ini disinyalir akan menyebabkan munculnya daerah genangan baru yang mungkin belum pernah ada sebelumnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Biasanya curah hujan yang menyebabkan genangan akan terjadi dalam waktu 1-3 hari.
Masing-masing kejadian tersebut berpotensi menyebabkan banjir di Jakarta. Tetapi, kejadian banjir yang jauh lebih besar akan mungkin terjadi dan menyebabkan banjir apalagi ketiga kejadian tersebut terjadi pada saat yang bersamaan atau dalam selang waktu yang kurang dari 6-12 jam. Lebih kurang kejadian seperti itulah yang terjadi di Jakarta pada awal Februari 2 tahun yang lalu (tahun 2007). Tentunya kita tidak berharap kejadian itu terulang kembali, ditengah-tengah kemampuan adaptasi (adapative capacity) masyarakat dan institusi kita masih sangat kurang.
Bagaimana potensi genangan Jakarta Februari 2009?
Jika kita asumsikan kejadian curah hujan Jakarta bulan Februari 2009 seperti pada Gambar 3b dengan syarat intensitas curah hujan harian yang tinggi, tidak kurang dari 150 mm per hari, maka kita akan coba menganalisis potensi genangan yang akan terjadi di Jakarta. Jika kita overlay-kan curah hujan dengan topografi Jakarta, maka Gambar 4 memperlihatkan daerah dimana potensi banjir akan terjadi. Di bagian Utara, akan berpotensi terjadi banjir rob, dengan wilayah cakupan yang tidak begitu luas dikarenakan curah hujan di wilayah laut (pantai utara Jakarta) tidak begitu tinggi. Sedangkan wilayah Selatan adalah berpotensi mendapat banjir kiriman dengan curah hujan yang cukup tinggi di wilayah Selatan Jakarta dan wilayah Bogor. Sedangkan bagian tengah Jakarta akan mengalami rendaman sebagian, terutama wilayah Kramat Jati. Wilayah lainnya yang berpotensi terkena genangan adalah: Kebayoran Baru, Tebet, Menteng, Pulogadung dan Kebun Jeruk.

Gambar 4. Peta potensi banjir di wilayah Jakarta
Akan tetapi kejadian curah hujan dan potensi banjir atau genangan di Jakarta mungkin tidak terjadi atau tidak separah yang digambarkan. Jika curah hujan tidak terjadi secara sekaligus akan tetapi disebarkan secara merata pada jangka waktu yang lebih panjang, maka banjir akan enggan masuk Jakarta bulan Februari ini.
Oleh karena itu, kita berharap semoga potensi curah hujan yang tinggi tidak terjadi lebih besar dari 150 mm dan kejadian potensi banjir tidak terjadi ”salah dua” atau ”salah tiga” dari tiga potensi kejadian di atas. Di masa mendatang kerjasama yang erat beberapa institusi berkompeten akan dapat memperkirakan kejadian curah hujan resolusi tinggi dalam skala waktu yang lebih pendek (harian) dengan menggunakan data harian yang real time. Walau bagaimanapun, saatnya kita untuk selalu bersiap-siap untuk menghadapi limpahan air di wilayah Jakarta dengan lebih memperhatikan lingkungan kita. Kita sadar dan sangat paham dengan sedikit langkah perhatian kita alihkan pada perbaikan lingkungan akan menurunkan ongkos adaptasi yang sangat mahal yang harus kita bayar jika terjadi bencana banjir.
|